Sebelumnya adalah kita
Hai penebar pesona yang membuat seseorang pengecut takut terpesona...
Nyata dalam kedipanku, kamu di tatap begitu jeli. Tengok mu yang amat tinggi kepadaku, membuatku menyeletuk betapa mungilnya dirimu kepadaku. Kehadiranmu membuatku harus menunggu, menyenderkan daguku berpapasan dengan kedua tanganku. Bahagianya aku menyambut sekolah, karna hanya itu yang mampu mempertemukan aku dengan kamu. Saat aku bicara denganmu, perkataanmu seakan menjadi alur cerita kehidupanku nanti. Namun cerita ini teruslah berjalan, alur nya tak jelas, bahagia tak sering malah ada yang hilang. Suasana hatiku seolah di skenario kan olehmu. Waktu yang aku lalui seakan tak bisa di perlambat saat dalam kebahagiaan, juga tak bisa dipercepat saat ketika kesedihan melanda. Bunyi langkah sepatu mu teramat berirama, suaramu yang jauh terdengar menggema di sepanjang lorong sekolah, seolah hatiku memainkan nada bahagia.
Saat berpapasan,
Jantungku seolah berdebar ribuan kali lipat dari jantungmu. Kau tengok aku, dagumu menaik, lalu kau sapa aku dan sedetik itupun juga kau pergi. Sulit sekali untuk menemukan alasan agar aku bisa terus dihadapanmu, sesulit aku menjawab pertanyaanmu yang menyeletuk kenapa aku dihadapanmu. Sesekali aku berbohong, basa basi seolah aku kesulitan, mendekati pertolongan palsu dan memintamu membantuku. Seakan semua terjadi seperti saksi bisu, tak bisa dijelaskan dan tak bisa ditampakkan, padahal jelas alasannya ada dihadapan kita. Namun, aku seperti kurcaci yang asal masuk ke panggung sandiwara. Ku kira aku satu satunya orang yang menemanimu berdiri dipanggung itu. Aku salah, Kepalaku seperti gelembung yang mau melayang dan pecah. Alur demi alur telah aku lalui. Dan kini, seakan cerita ini aku berperan sebagai penengahmu, membuat sejarah di tengah kehidupanmu. Alur kini telah menjadi alurku. Aku seakan terbuang dan menjadi penikmat di kemudian hari, menyaksikan orang lain bersandiwara bersama mu, menelusuri alur selanjutnya. Tawamu kini seakan auman raksasa, dari lorong, sudut ataupun pojok jelas begitu terdengar. Senyum mu begitu mekar, seperti bunga anggrek di negeri tirai bambu. Sayangnya, aku hanya sebagai orang yang menyaksikan dari kejauhan, laut bahagiamu kini telah menjadi alur orang lain.
Kosong, kosong nafas ini.
Aku mencoba bernafas tanpa kehadiranmu, namun itu sulit, itu bisa membunuh batinku.
Ya, Cerita belum larut hingga Tuhan membenamkan alur ini.
Beginilah kita, kini aku jarang mendengar suara sepatumu yang berirama, karna aku tau kau sekarang berpapasan dengan orang lain bukan denganku lagi. Tak ada lagi tanya mu kepadaku, dan tak perlu lagi mencari alasan bodoh. Kertas kosong kini kau isi dengan alur orang lain, tak pernah lagi kau kabarkan aku. Semuanya kembali seperti dulu, dulu sebelum kita bertemu, mengenal wajah namun tak kenal nama dan asing. Tak lagi terisi, Dahulu yang pernah ku lakukan kepadamu kini seolah terlupakan, terhapus masa. Genggaman kita seperti tarikan magnet yang saling bertolak, kau mau dengan dia Tapi aku mau kau tak dengan dia.
Dan sekarang,
Waktu bagimu emas, sangat sulit didapatkan, bertemu saja hanya sebentar. Sekali, cobalah dengarkan aku, jangan tatap aku dengan hal konyol...
Kita yang sekarang begitu terasa berbeda, mencoba melupakan segalanya yang disebut kenangan.
Aku kini tau, mereka yang baru datang dengan canda tawamu mungkin tak menjamin sebuah perpisahan, tak seperti aku.
Sesekali, cobalah kamu coba tengok langit, matahari, bulan, laut dan tempat-tempat yang kita jumpai, karna merekalah yang menjaga kenangan kita...
Karena sebelumnya adalah kita.




0 komentar: